Prinsip- Prinsip Multimedia Pembelajaran


Prinsip- Prinsip Multimedia Pembelajaran
Sebelum membuat sebuah multimedia pembelajaran, hendaknya seorang pengembang mengetahui prinsip-prinsip multimedia pembelajaran terlebih dahulu. Ada banyak ahli yang menurunkan prinsip-prinsip tersebut. Multimedia tentu memberikan tantangan yang unik, seperti bagaimana efektifitas dan efisien multimedia terintegrasi dengan materi yang disajikan kepada siswa oleh guru. Banyak peneliti telah berfokus pada multimedia salah satunya Mayer  dalam  Cognitive Theory Multimedia Learning (CTML) dan load Cognitif theory (teori beban kognitif) dari Sweller untuk mengatasi keterbatasan memori manusia dan mempromosikan proses kognitif yang lebih tinggi agar pembelajaran lebih bermakna. CTML Mayer didasarkan pada tiga asumsi proses kognitif pembelajaran  yaitu:
 (a) Asumsi dual coding  untuk visual dan auditory
(b) asumsi kapasitas terbatas
 (c) Asumsi pengolahan aktif untuk melaksanakan satu set proses koordinasi kognitif
Mayer menggambarkan bagaimana multimedia membangun representasi mental dalam arsitektur kognitif pada pelajar. Menurutnya  pembelajaran yang bermakna terjadi ketika seorang pelajar memilih informasi yang relevan, mengatur informasinya itu ke dalam representasi yang koheren, dan informasi itu terintegrasi dengan pengetahuan sebelumnya.
Teori beban kognitif memilki ssumsi dasar bahwa arsitektur kognitif terdiri dari beberapa memori, termasuk memori kerja yang terbatas dan memori jangka panjang yang luas. Menurut Schnotz dan Kurschner keterbatasan memori kerja hilang ketika berhadapan dengan informasi dari memori jangka panjang, di mana informasi ini disusun dalam unit-unit yang lebih tinggi yang disebut skema kognitif. Namun, Sweller memperingatkan keterbatasan memori kerja manusia dalam beban memori berlebihan dapat disebabkan oleh penyajian elemen yang terlalu banyak. Dalam banyak jenis instruksi multimedia, diperlukan integrasi informasi dari saluran yang berbeda, sehinggga menyebabkan beban kognitif tidak semakin tinggi.
    Mayer dan rekannya menunjukkan tujuh efek desain multimedia dasar yang telah diuji secara empiris berdasaran prinsip-prinsip desain multimedia dasar (disebut sebagai multimedia efek desain) yang berguna dalam merancang presentasi multimedia. Tujuh prisnip ini meliputi:
  1. Siswa belajar lebih baik dari kata-kata dan gambar dari pada kata-kata saja (multimedia principle)
  2. Siswa belajar lebih baik ketika kesesuaian kata-kata yang disampaikan dengan gambar yang disajikan berada lebih dekat daripada jauh dari layar (Spatial contiguity principle),
  3. Siswa belajar lebih baik ketika kata-kata yang sesuai dan gambar yang disajikan disajikan bersamaan daripada berturut-turut (Temporal contiguity Principle),
  4. Siswa belajar lebih baik ketika kata-kata, gambar, dan suara lebih dikeluarkan (Excluded) daripada dimasukkan (included) (Coherence Principle),
  5. Siswa belajar lebih baik dari animasi dan narasi daripada dari animasi dan teks pada layar “(Modality Principle),
  6. Siswa belajar lebih baik dari animasi dan narasi daripada dari animasi, narasi, dan teks pada layar “(Redundancy Principle), dan
  7. Efek Desain lebih berpengaruh pada peserta didik yang berpengetahuan rendah (low-knolwledge) daripada peserta didik yang berpengtahuan lebih tinggi (high knowledge) dan untuk pelajar yang memilki spasial yang tinggi dari pada spasial yang rendah (Individual difference Principle).
 Prinsip Mayer dan Clark dalam mengembangkan multimedia pembelajaran. Berikut penjelasan prinsip-prinsip tersebut:
1. Prinsip Multimedia
Prinsip multimedia berbunyi murid bisa belajar lebih baik dari kata-kata dan gambar-gambar daripada dari kata-kata saja. Yang dimaksudkan dengan kata-kata adalah teks tercetak di layar yang dibaca pengguna atau teks ternarasikan yang didengar pengguna melalui speaker atau headset. Yang dimaksudkan dengan gambar adalah ilustrasi statis seperti gambar, diagram, grafik, peta, foto, atau gambar dinamis seperti animasi dan video. menggunakan istilah penyajian multimedia untuk menyebut segala penyajian yang berisi kata-kata dan gambar.
2. Prinsip Keterdekatan
Prinsip keterdekatan terbagi dua, yaitu keterdekatan ruang atau keterdekatan kata tercetak dengan gambar yang terkait  dan keterdekatan waktu atau keterdekatan kata-kata ternarasi dengan gambar yang terkait. Prinsip keterdekatan ruang menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik saat kata-kata tercetak dan gambar-gambar yang terkait disajikan saling berdekatan daripada disajikan saling berjauhan. Sedangkan prinsip keterdekatan waktu menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik jika kata-kata ternarasikan dan gambar-gambar yang terkait (animasi atau video) disajikan pada waktu yang sama (simultan).
Alasan Mayer (2009:119) berkaitan prinsip keterdekatan ruang adalah saat kata-kata dan gambar terkait saling berdekatan di suatu layar, maka murid tidak harus menggunakan sumber-sumber kognitif untuk secara visual mencari mereka di layar itu. Siswa akan lebih bisa menangkap dan menyimpan mereka bersamaan di dalam memori kerja pada waktu yang sama. Sedangkan untuk keterdekatan waktu, Mayer (2009:141) beralasan bahwa saat bagian narasi dan bagian animasi terkait disajikan dalam waktu bersamaan, siswa lebih mungkin bisa membentuk representasi mental atas keduanya dalam memori kerja pada waktu bersamaan. Hal ini lebih memungkinkan siswa untuk membangun hubungan mental antara representasi verbal dan representasi visual.
3. Prinsip Modalitas
Prinsip modalitas menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik dari animasi dan narasi (kata yang terucapkan) daripada dari animasi dan kata tercetak di layar. Berdasarkan teori kognitif dan bukti riset, menyarankan untuk menarasikan teks daripada menyajikan teks tercetak di layar saat gambar (statis maupun bergerak) menjadi fokus kata-kata dan saat keduanya disajikan pada waktu yang bersamaan.
Mayer (2009:197) beralasan bahwa jika gambar-gambar dan kata-kata sama-sama disajikan secara visual, maka saluran visual akan menderita kelebihan beban tapi saluran auditori tidak termanfaatkan. Jika kata-kata disajikan secara auditori, mereka bisa diproses dalam saluran auditor, sehingga saluran visual hanya memproses gambar.
4. Prinsip Koherensi
Prinsip koherensi menyatakan bahwa siswa bisa belajar lebih baik jika hal-hal ekstra disisihkan dari sajian multimedia Prinsip koherensi terbagi atas tiga versi, yaitu pembelajaran siswa terganggu jika gambar-gambar menarik namun tidak relevan ditambahkan, pembelajaran siswa terganggu jika suara dan musik menarik namun tidak relevan ditambahkan, dan pembelajaran siswa akan meningkat jika kata-kata yang tidak dibutuhkan disisihkan dari presentasi multimedia.
Mayer (2009:167) mengemukakan alasan teoretis bahwa materi ekstra selalu bersaing memperebutkan sumber-sumber kognitif dalam memori kerja sehingga bisa mengalihkan perhatian siswa dari materi yang penting. Hal-hal ekstra juga bisa menganggu proses penataan materi dan bisa menggiring siswa untuk menata materi di atas landasan tema yang tidak sesuai.
5. Prinsip Redundansi
Prinsip redundansi menyatakan bahwa siswa belajar lebih baik dari gambar dan narasi daripada dari gambar, narasi, dan teks tercetak di layar. Implikasi dari hal ini adalah saran dari Clark & Mayer untuk tidak menambahkan teks tercetak di layar ke gambar yang sedang dinarasikan.
Clark & Mayer (2011:135) mengemukakan alasan bahwa siswa akan lebih memperhatikan teks tercetak di layar daripada ke gambar yang berkaitan. Saat mata mereka fokus di kata-kata tercetak, siswa tidak bisa melihat ke gambar yang sedang dinarasikan. Juga, siswa berusaha membandingkan teks tercetak dengan narasi yang diucapkan sehingga membebani proses kognitif. Karena itulah, untuk gambar yang sedang dinarasikan, hendaknya tidak ditambahkan teks tercetak di layar.
6. Prinsip Personalisasi
Prinsip personalisasi menyarankan agar pengembang multimedia menggunakan gaya percakapan dalam narasi daripada gaya formal. Gaya percakapan di antaranya dicapai dengan menggunakan bahasa orang pertama dan orang kedua serta dengan suara manusia yang ramah.
Clark & Mayer (2011:184) menyatakan bahwa riset dalam proses diskursus menunjukkan bahwa manusia bekerja lebih keras untuk memahami materi saat mereka merasa berada dalam percakapan dengan seorang teman, daripada sekadar menerima informasi. Mengekspresikan informasi dalam gaya percakapan dapat merupakan cara untuk mempersiapkan proses kognitif siswa. Clark & Mayer (2011:184) menambahkan pula bahwa instruksi yang mengandung petunjuk sosial seperti gaya percakapan mengaktifkan perasaan kehadiran sosial, yaitu perasaan sedang dalam percakapan dengan pengarang. Perasaan kehadiran sosial ini mengakibatkan pembelajar terlibat dalam proses kognitif yang lebih dalam selama belajar dengan berusaha lebih keras memahami apa yang pengarang ucapkan, yang hasilnya adalah hasil belajar yang lebih baik.
7. Prinsip Segmentasi dan Pra Latihan
Prinsip segmentasi menyarankan untuk memecah materi pelajaran yang besar menjadi segmen-segmen yang kecil. Saat sebuah materi pembelajaran kompleks, materi itu perlu dibuat menjadi sederhana dengan dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang dapat diatur kemunculannya.
Permasalahan:
1.       Bagaimana jika fasilitas sekolah yang tidak memadai untuk menggunakan multimedia, apakah media yang yang digunakan sesuai prinsip multimedia?
2.       Apa keunggulan dari multimedia?
3.       Tolong jelaskan asumsi kapasitas terbatas pada tiga asumsi proses kognitif pembelajaran  CTML Mayer

Sumber:
https://chriseldasite.wordpress.com/2017/09/01/7-prinsip-dasar-multimedia-pembelajaran/

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Saya akan mencoba menjawab permasalahan nomor 2 yaitu Apa keunggulan dari multimedia?

    Multimedia memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan media-media lainnya seperti buku,audio, video, atau televisi. Keunggulan yang paling menonjol yaitu interaktivitas.

    Multimedia memiliki keunggulan diantaranya sebagai berikut :
    1. Media alternatif dalam penyampaian pesan, diperkuat dengan teks, suara, gambar, video, dan animasi

    2. Menarik perhatian, karena manusia memiliki keterbatasan daya ingat

    3. Meningkatkan kualitas penyampaian informasi

    4. Interaktif
    Setelah kita melihat beberapa kelebihan multimedia, sekarang kita lihat kekurangan dari multimedia itu sendiri.

    BalasHapus
  3. Saya akan membantu menjawab permasalahan no 3

    Asumsi keterbatasan kapasitas pada pembelajaran CTML Mayer menyatakan bahwa adanya keterbatasan kemampuan manusia memproses informasi dalam setiap kanal pada satu waktu.

    Dalam satu sesi presentasi, audiens hanya bisa menyimpan beberapa informasi visual (gambar, video,diagram, dsb) dan beberapa informasi tutur (auditif ). Asumsi inilah yang mendasari riset dan teori yang disebut teori beban kognitif (cognitive load theory). Meskipun beban maksimal tiap individu bervariasi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa rata - rata manusia hanya mampu menyimpan 5-7 ‘potongan’ informasi saja pada satu saat.

    BalasHapus
  4. saya akan menjawab permasalahan nomor 1 pertama kita harus mengetahui fasilitas sekolah yang mana yang tidak dipenuhi. misalkan jika proyektor atau infocus yang tidak ada, maka media tersebut tidak memenuhi prinsip multi media karena multi media ini berhubungan erat dengan komputer atau laptop salah satu nya dimana laptop bisa menayangkan semua atau syarat dikatakan media itu sebagai multimedia. Multimedia merupakan kombinasidari teks, gambar, seni grafik, suara, animasi dan elemen-elemen video yang dimanipulasi secara digital. Tampilan dan cita rasa dari proyek multimedia harus menyenangkan, estetis, mengundang dan mengikat. Proyek harus memuat konsistensi visual, hanya dengan menggunakan elemen-elemen yang mendukung pesan keseluruhan dari program.Menurut Gayestik seperti dikutip oleh Idris (2008), multimedia merupakan suatu sistem komunikai interaktif Berbasis komputer yang mampu menciptakan, menyimpan, menyajikan, dan mengakses kembali informasi berupa teks, grafik, suara, video, atau animasi.Secara etimologis multimedia berasal dari kata multi (bahasa Latin) yang berarti banyak, bermacam-macam, dan medium (bahasa Latin) yang berarti sesuatu yang dipakai untuk menyampaikan atau membawa sesuatu. Kata medium dalamAmerican Heritage Electronic Dictionary(1991) juga diartikansebagai alat untuk mendistribusikan dan mempresentasikan informasi (Rachmat dan Alphone, 2005/2006). Maswin (2010) dalam mengemukakan bahwa multimedia merupakan perpaduan antara berbagai media atau format file yang berupa teks, gambar (vektor atau bitmap), grafik, sound, animasi, video interaksi dan lain-lain, sedangkan dari Wikipedia Indonesia ensiklopedia berbahasa Indonesia pengertian multimedia adalah penggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan teks, suara, gambar, animasi dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi (link)sehingga pengguna dapat bernavigasi, berinteraksi, berkarya, dan berkomunikasi. jadi kalau tidak ada fasilitas seperti dijelasakan tadi kita bisa menggunakan media konvensional.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teori Pemrosesan Informasi Berbantuan Media

Pengembangan E-Learning dalam Pembelajaran Kimia