Pengembangan E-Learning dalam Pembelajaran Kimia
Pengembangan E-Learning
dalam Pembelajaran Kimia
Pembelajaran merupakan akumulasi dari konsep mengajar
(teaching) dan konsep belajar (learning). Dengan demikian pembelajaran merupakan suatu proses
interaksi antara komponen-komponen dalam sistem pembelajaran. Proses
pembelajaran yang telah direncanakan
dengan baik akan mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yaitu proses
pembelajaran menerapkan kemampuan dan menggunakan sarana atau media serta
mengikuti mekanisme yang telah diatur. Dalam hal ini media pembelajaran
diartikan sebagai perantara atau penghubung antara sumber informasi (guru)
dengan penerima informasi (siswa). Upaya penerapan teknologi informasi dan
komunikasi di bidang pendidikan salah satunya ditandai dengan hadirnya situs
belajar dan mengajar dengan menggunakan web dan internet yang sering disebut
dengan e-learning.
Terminologi e-learning cukup banyak dikemukakan dalam berbagai sudut
pandang, namun pada dasarnya mengarah pada pengertian yang sama. E-learning merupakan sebuah proses pembelajaran yang dilakukan
melalui network (jaringan). Ini berarti dengan elearning memungkinkan
tersampaikannya bahan ajar kepada peserta didik menggunakan media teknologi
infomasi dan komunikasi berupa komputer dan jaringan internet atau intranet.
Dengan kata lain e-learning lebih tepat ditujukan sebagai
usaha membuat sebuah transformasi proses pembelajaran yang ada di sekolah atau
perguruan tinggi ke dalam bentuk digital yang dijembatani oleh teknologi
internet. Dengan e-learning, belajar bisa dilakukan kapan saja, di mana saja,
melalui jalur mana saja, dan dengan kecepatan akses apapun, sehingga proses
pembelajaran berlangsung efisien dan efektif.
Dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh para ahli, E-Learning
secara garis besar dapat disimpulkan sebagai pembelajaran berbantuan media elektronik
seperti, TV, Handpohone, Tape, PDA, CD-ROM dan lain sebagainya sebagaipengantar
pesan pembelajaran kepada peserta didik. Dalam arti sempit, E-Learning merupakan
pembelajaran yang berbasis pada komputer yang sudah terkoneksi oleh internet
dan dapat digunakan sebagai media pembelajaran di mana saja dan kapan saja
tidak terbatas oleh ruang dan waktu
Peran internet sebagai sumber
belajar akan memberikan kemudahan, karena mudah untuk mengakses berbagai
informasi untuk pendidikan. Untuk mengakses materi
pembelajaran pada e-learning diperlukan komputer dengan jaringan internet atau
intranet. Materi pembelajaran selalu ada kapanpun dan dimanapun dibutuhkan, sehingga dapat mengatasi kendala jarak
ruang dan waktu. E-learning menuntut keaktifan peserta didik, karena melalui e-learning, peserta didik dapat mencari dan mengambil informasi
atau materi pembelajaran berdasarkan silabus atau kriteria yang telah
ditetapkan pengajar atau pengelola pendidikan.
E-learning bermanfaat bagi berbagai pihak yang terkait, yaitu:
1. Bagi siswa, dengan kegiatan pembelajaran melalui e-learning dimungkinkan berkembangnya
fleksibilitas belajar siswa yang optimal, dimana siswa dapat mengakses
bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. Disamping itu siswa juga
dapat berkomunikasi dengan guru setiap saat.
2.
Bagi guru, melalui e-learning guru lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan
belajar yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan
keilmuan yang terjadi.
3.
Bagi sekolah, dengan adanya model
pembelajaran e-learning berbasis web, maka akan tersedia
bahan ajar yang telah divalidasi sesuai dengan bidangnya sehingga setiap guru
dapat menggunakan dengan mudah serta efektivitas dan efisiensi pembelajaran
secara keseluruhan akan meningkat, pengembangan isi pembelajaran akan sesuai
dengan pokok-pokok bahasan, sebagai pedoman praktis implementasi pembelajaran
yang sesuai dengan kondisi dan karakteristik pembelajaran, dan mendorong
menumbuhkan sikap kerja sama antara guru dengan guru dan guru dengan siswa
dalam memecahkan masalah pembelajaran.
Namun, Seperti halnya penggunaan media dalam
pembelajaran, penerapan e-learning dalam pembelajaran juga harus disertai dengan
strategi agar tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai dengan yang
dikehendaki. Penyusunan strategi ini berguna untuk memperjelas tujuan yang
ingin dicapai, mengetahui sumber daya yang dibutuhkan, membuat semua pihak yang
terlibat untuk tetap mengacu pada tujuan yang sama, dan mengetahui pengukuran
keberhasilan. Strategi e-learning mencakup
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Untuk dapat menerapkan e-learning dalam proses pembelajaran, diperlukan tahap perencanaan
yang matang dan perangkat yang memadai. Media e-learning dapat diterapkan melalui:
1.
Komputer stand alone, dimaksudkan bahwa proses
pembelajaran dapat berlangsung melalui media CD-ROM. Kegiatan belajar siswa
dilaksanakan di depan komputer (dilingkungan sekolah apabila pembelajaran
dilaksanakan secara tatap muka, dan diluar sekolah apabila dilaksanakan diluar
tatap muka/ penugasan) dengan membuka CD-ROM yang berisi materi, tugas dan sebagainya.
2.
Dengan jaringan intranet,
kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan adanya dukungan fasilitas labor
komputer. Sehingga seluruh komputer akan dihubungkan ke dalam jaringan lokal,
untuk mengakses dan bertukar informasi.
3.
Dengan jaringan internet, media
pembelajaran e-learning akan berjalan sangat efisien
mengingat e-learning memiliki kelebihan yang
berhubungan erat dengan internet. Tipe ini dapat dilaksanakan dengan adanya
dukungan akses internet yang memadai, baik melalui LAN (local area network ),
hot spot, atau modem.
Dengan demikian e-learning dapat dilaksanakan secara
statis, pada sifat ini e-learning hanya berfungsi sebagai penyedia materi./bahan ajar
untuk peserta didik. Sedangkan yang bersifat dinamis dapat menghadirkan
interaksi dan suasana belajar seperti tatap muka di kelas. Dalam hal ini e-learning dapat
menyediakan sarana untuk berdiskusi, sharing, komunikasi, dan evaluasi hasil belajar. Keberhasilan
penerapan e-learning ditentukan juga oleh merencanakan materi. Karena pada kenyataannya tidak
semua materi pembelajaran dapat atau harus disajikan secara elektronik. Materi yang disajikan dalam media e-learning harus sesuai dengan analisa kebutuhan dari
pembelajaran. Selain itu, materi pembelajaran yang disajikan di dalam media
pembelajaran e-learning, terbagi menjadi materi ajar dan
materi uji. Sedangkan untuk menilai keberhasilan pembelajaran dan penggunaan
media pembelajaran e-learning, dilakkan evaluasi yang
meliputi: pengukuran efektivitas berdasarkan persepsi dan reaksi anak didik,
berdasarkan pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, berdasarkan
peningkatan pengetahuan anak didik di lingkungan pendidikan, dan berdasarkan
perubahan pada lembaga pendidikan disebabkan adanya pembelajaran.
Pengembangan media pembelajaran berbasis online learning
haruslah dikonstruksi dengan cermat sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Haughey
dalam Lantip (2011:218-219)memaparkan tiga kemungkinan dalam pengembangan
sistem pembelajaran berbasis online learning, yaitu:
a)
Web Course adalah pemanfaatan
internet untuk keperluan pendidikan, dimana peserta didik dan pendidik sepenuhnya
terpisah dan tidak diperlukannya tatap muka antara keduanya.
b)
Web centric course yaitu pemanfaatan
internet yang menggabungkan antara belajar jarak jauh dengan belajar secara tatap
muka.
c)
Web enchanced course yakni
pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan kualitas dari pembelajaran
yang dilaksanakan di kelas. Dalam perkembangannya, pembelajaran online learning
dapat dilakukan secara kolaboratif antara tatap muka maupun dengan tidak tatap
muka.
Pengembangan bahan ajar berbasis e-learning dengan materi hidrokarbon
dan minyak bumi ini didasarkan pada model pengembangan yang direkomendasikan
oleh Thiagarajan (1974), yakni 4D-Model yang terdiri dari pembatasan (define),
perencanaan (design), pengembangan (develop), dan penyebarluasan (disseminate).
1. Tahap pendefinisian (define)
Tahap pendefinisian (define) adalah untuk menentukan dan menegaskan
kebutuhan-kebutuhan pembelajaran. Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap
ini adalah: (1) analisis ujung depan yang mengarah pada hasil akhir dari
pengembangan yakni berupa bahan ajar berbasis e-learning, (2) analisis siswa,
langkah ini menetapkan subyek pebelajar dan sasaran belajar siswa yaitu siswa
kelas X semester 2 dengan materi pokok senyawa hidrokarbon dan minyak bumi
dengan karakter siswa yang telah mengenal internet, dan (3) perumusan indikator
hasil belajar yang dirumuskan berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi
dasar pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Analisis siswa dibedakan
menjadi dua, yaitu: (1) analisis tugas dengan mencari literature dan sumber
belajar tentang hidrokarbon dan minyak bumi dan (2) analisis konsep yang
dilakukan dengan mengidentifikasi konsep-konsep utama yang akan dipelajari.
2. Tahap perencanaan (design)
Tahap perencanaan (design) meliputi tiga langkah yaitu: (1) penyusunan
tes dengan membuat soal yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman
materi dan keberhasilan siswa dalam memahami materi dalam bahan ajar, (2)
pemilihan media untuk mendapatkan media yang tepat sesuai dengan perkembangan
era teknologi yang sedang berlangsung, yaitu media internet, dan (3)
perancangan awal yang meliputi membaca buku teks yang relevan, menulis bahan
ajar, adaptasi bahan ajar, konsultasi secara intensif dengan dosen pembimbing.
3. Tahap pengembangan (develop)
Pada tahap pengembangan (develop) langkah- langkah
yang dilakukan adalah:
(1)
konsultasi dengan pembimbing yang bertujuan untuk merancang dan menyusun media
dan instrumen yang akan dipakai dalam penelitian,
(2) validasi
yang merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data tentang nilai yang diperoleh
dari validator,
(3) analisis hasil validasi, hasil validasi dianalisis
sesuai dengan penilaian, saran, dan kritik dari validator,
(4) revisi
bahan ajar berbasis e-learning yang bertujuan untuk menyempurnakan bahan ajar
yang akan digunakan, dan
(5) uji coba
terbatas, tujuan uji coba ini hanya untuk mengetahui kelayakan dari produk
pengembangan yakni bahan ajar berbasis e-learning.
4. Tahap penyebarluasan (disseminate)
Tahap keempat yaitu penyebarluasan (disseminate) merupakan tahap
penggunaan bahan ajar yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas. Tahap
ini bertujuan untuk menguji efektivitas penggunaan bahan ajar berbasis
e-learning hasil pengembangan. Dalam pengembangan ini, tahap penyebarluasan
(disseminate) tidak dilakukan karena pertimbangan keterbatasan waktu, tenaga,
dan biaya. Selain itu, disesuaikan dengan tujuan pengembangan bahan ajar
berbasis e-learning yakni untuk mengetahui kelayakan bahan ajar bukan untuk
mengukur prestasi belajar siswa.
Teknis Pelaksanaan E-Learning
Secara garis besar, teknis pelaksanaan e-learning dapat dilakukan
dengan dua cara, yakni: (1) hanya menggunakan media Web biasa, dan (2)
menggunakan software khusus e-learning berbasis Web yang sering disebut dengan
istilah learning management system (LMS). Pada cara pertama, materi-materi
pembelajaran disajikan pada sebuah situs Web. Siapapun dapat mengakses materi
secara bebas atau dibatasi dengan password (seperti model langganan majalah/
jurnal). Komunikasi bisanya dilakukan menggunakan e-mail atau forum diskusi
khusus. Dalam hal ini biasanya tidak terdapat fasilitas portofolio, sehingga
dosen tidak memiliki informasi siapa yang telah mengakses materi tertentu dan
kapan akses dilakukan. Yang diperlukan untuk menggunakan pendekatan ini
hanyalah sebuah server Web.
Pada cara kedua, selain diperlukan server Web juga diperlukan sebuah
software (LMS) yang berfungsi untuk mengelola e-learning. Software (sistem) LMS
biasanya mempunyai fasili tas-fasilitas yang berfungsi untuk (1) administrasi
mahasiswa, (2) penyajian materi, (3) komunikasi,(4) pencatatan (portofolio),
(5) evaluasi, bahkan (6) pengembangan materi. Berbeda dengan akses ke Web
biasa, akses ke LMS biasanya memerlukan nama user dan password, dan biasanya
hanya dosen dan mahasiswa yang terdaftar yang dapat melakukannya. Sistem LMS
akan mencatat semua aktivitas yang dilakukan mahasiswa selama mereka masuk ke
dalam system e-learning. Pada gambar berikut menyajikan diagram arsitektur
sistem e-learning berbasis LMS (diadopsi dari Kojhani, 2004).
Permasalahan:
1.
Bagaimana kelebihan dan
kekurangan dari pembelajaran yang menggunakan e-learning?
2.
Salah satu pengembangan
e-learning ini “Web Course adalah pemanfaatan internet untuk keperluan pendidikan,
dimana peserta didik dan pendidik sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukannya
tatap muka antara keduanya.” Bagaimana kita seorang guru dapat menilai secara
individual pada peserta didik tentang pemahaman materi yang kita sampaikan,
sedangkan bisa saja mereka mengerjakannya secara bersama atau mencontek?
3.
Apakah semua pembelajaran kimia
akan efektif bila dikembangkan dengan e-learning, bila ada yang pembelajaran
kimia yang tidak efektif, amteri yang bagaimana yang akan menjadi efektif bila
menggunakan e-learning?
Sumber:
saya akan mencoba menjawab permasalahan nomor 1.
BalasHapusKelebihan dari e-learning dalam pembelajaran
1. Murah – Dengan bermodalkan paket data internet saja siswa atau siswi dapat mengakses materi pembelajaran yang mereka inginkan tanpa harus khawatir ketinggalan pelajaran apabila tidak hadir.
2. Hemat – Hemat disini bermaksudkan bahwa siswa atau siswi tidak usah membeli buku materi pembelajaran lagi karena semua materi sudah dapat dicari dengan mudah di internet.
3. Tingkat pemahaman yang lebih baik – Terkadang faktor penghambat dari kegiatan pembelajaran adalah cara penyampaian materi seorang pengajar yang cukup susah dipahami. Melalui e-learning siswa dan siswi bisa mencari konten materi yang memiliki penyampaian yang mudah dipahami seperti melalui video dan gambar.
4. Wawasan tidak terbatas – Dengan melakukan e-Learning siswa dan siswi akan selalu menemukan hal yang semula mereka tidak ketahui. Tidak seperti jika pembelajaran melalui tatap muka saja atau hanya dengan membaca buku. Siswa dan siswi akan mendapat wawasan yang lebih luas dan tidak terbatas.
5. Mandiri – Berbeda dengan pembelajaran tatap muka, melalui e-Learning siswa dan siswi berguru ke internet tanpa adanya campur tangan dari guru lagi. Sehingga siswa dan siswi dapat terbiasa mencari materi yang ia tahu tanpa harus selalu bertanya kepada guru yang ada dikelas.
Kekurangan e-learning dalam pembelajaran
1. Wawasan yang Tidak Seharusnya Dilihat
Seperti yang dijelaskan pada poin kelebihan sebelumnya bahwa e-Learning memberikan kebebasan akses siswa dan siswi untuk menambah wawasan mereka. Namun tidak semua wawasan di Internet itu positif. Jika tidak hati-hati siswa dan siswi dapat mengakses hal yang seharusnya mereka belum boleh akses seperti konten-konten porno yang beredaran di Internet.
2. Kesosialan terganggu
Dengan e-Learning siswa dan siswi akan mempunyai wawasan yang berbeda-beda. Hal ini cenderung membuat siswa satu dengan lainnya merasa lebih superior karena mengetahui lebih banyak dari yang lainnnya. Atau bahkan yang wawasannya masih kurang luas merasa minder dan akhirnya mengucilkan dirinya sendiri.
3. Interaksi dengan guru berkurang
e-Learning membuat siswa dan siswinya berguru kepada internet namun hal ini menyebabkan interaksi dengan guru berkurang karena mereka telah mengetahui materi dan tidak ada lagi yang bisa ditanyakan kepada guru dikelas. Alhasil guru seperti tidak dibutuhkan lagi didalam kelas.
4. Kurangnya akses internet
Bagaimana siswa dan siswi ingin melakukan pembelajaran elektronik jika pemerintah tidak memberikan akses internet kepada sekolah-sekolah tidak berkecukupan.
5. Infrastuktur yang tidak memadahi
Beberapa sekolah di Indonesia sudah dilengkapi dengan lab komputer yang lengkap isinya dengan komputer dan processor yang canggih. Namun masih ada banyak sekolah yang belum mempunyai ruangan lab untuk menampung komputer-komputer bantuan dari pemerintah.
6. Kebiasaan lama susah diubah
Tidak dipungkiri, kebiasaan membaca buku pelajaran masih menempel disebagian siswa atau siswi. Mereka belum terbiasa dengan harus menatap monitor berjam-jam untuk mempelajari materi yang mereka pilih.
Saya akan membantu me jawab permasalahan no 3
BalasHapusMungkin dari teman-teman sudah ada yang tahu apa itu e-learning tapi mungkin juga belum ada yang tahu. Oke, saya jelaskan kembali. E-learning merupakan sistem pembelajaran elektronik, dimana peserta didik atau murid tidak perlu duduk di dalam kelas untuk menyimak setiap materi pembelajaran yang disampaikan guru secara langsung, tetapi dapat disimak setiap saat pada tempat dimana saja yang terhubung dengan fasilitas internet. Sehingga dengan adanya e-learning ini mempermudah guru dan siswa maupun Dosen dan Mahasiswa dalam melakukan proses belajar mengajar karena kita tidak perlu bertatap muka secara langsung. Terserah kita mau belajar atau ngakses kapan pun tetap bisa. Karena ciri khas dari E-learning itu sendiri ialah hilangnya interaksi langsung antara guru dan para siswa.
Efektif tidaknya suatu pembelajaran kimia menggunakan e learning tersebit tergantung pada guru dan siswanya,, dapat dibilang efektif karena e learning ini dapat di gunakan oleh siswa dalam suatu pembelajaran dengan media online tanpa adanya interaksi antara guru dan siswa. Dalam pembelajaran kimja misalnha terdapat suatu materi yang tidak efektif digunakan media lain maka solusinya kita meggunakan media e learning yang mana peserta didik dapat mengangkes materi tersebut dimanapun dan kapanpun yang mereka mau sehingga tidak hanya terfokus hanya dikelas saja
disini saya akan mejawab permasalahan no.2.
BalasHapusSalah satu pengembangan e-learning ini “Web Course adalah pemanfaatan internet untuk keperluan pendidikan, dimana peserta didik dan pendidik sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukannya tatap muka antara keduanya.” Bagaimana kita seorang guru dapat menilai secara individual pada peserta didik tentang pemahaman materi yang kita sampaikan, sedangkan bisa saja mereka mengerjakannya secara bersama atau mencontek?
Jadi menurut pendapat saya, cara seorang guru melihat apakah siswa paham atau tidak dengan apa yang telah kita sampaikan secara online dengan bantuan web adalah menggunakan bentuk tes tertulis atau tes lisan, misalnya saja tes tertulis, meskipun ada kemungkinan siswa mencontek atau bekerja sama tentu akan tampak persamaan dan ciri-ciri yang menandakan hal tersebut. terutama jika penggunaan alat deteksi plagiarisme digunakan dalam format penilaian. tentu siswa tidak akan melakukan hal tersebut;