Teori Pemrosesan Informasi Berbantuan Media
Teori
Pemrosesan Informasi Berbantuan Media
Teori ini didasarkan pada model memori dan penyimpanan yang
dikemukakan oleh Atkinson dan Shiffin dalam Levitin (2002:296) menyatakan bahwa
memori manusia terdiri dari tiga jenis, yaitu sensori memori (sensory register)
yang menerima informasi melalui indra penerima seperti mata, telinga, hidung,
mulut, dan atau tangan, setelah beberapa detik informasi tersebut akan hilang
atau diteruskan pada ingatan jangka pendek short term memory atau working memory).
Informasi tersebut setelah 5 –20 detik akan hilang atau tersimpan ke dalam
ingatan jangka panjang (long term memory).
Teori pemrosesan informasi berpijak pada tiga asumsi sebagai
mana dikemukakan Lusiana dalam Budiningsih (2005:82) bahwa:
(a) antara stimulus dan respon terdapat
suatu seri pemrosesan informasi di mana pada masing-masing tahapan dibutuhkan
sejumlah waktu tertentu,
(b) stimulus yang diproses
melalui tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk atau isinya, dan
(c) salah satu dari tahap
memiliki keterbatasan kapasitas.
Proses pengolahan informasi dalam ingatan manusia diolah
dalam tahapan yang berurutan, dan tiap tahapan terjadi struktur tertentu dalam
sistem memori. Pencatat indra khususnya visual dan pendengaran, menerima
isyarat-isyarat yang luas sekali macamnya dari lingkungan. Beberapa informasi
disimpan sebentar (0,5 sampai 2,0 detik) saja di dalam pencatat indera.
Informasi yang telah dipilih untuk diolah lebih lanjut masuk kedalam memori
jangka pendek atau memori kerja. Sedangkan informasi yang tidak diakomodir
untuk diolah lebih lanjut selanjutnya akan hilang dari sistem. Dalam memori kerja atau jangka
pendek informasi tersebut selanjutnya disandikan menjadi wujud yang bermakna
dan dikirim ke memori jangka panjang untuk disimpan secara tetap. Proses
penyandian informasi dan pengiriman ke memori jangka panjang merupakan fase
inti dari belajar.
Letivin (2002:322) menyatakan terdapat
tiga jenis informasi di dalam memori yang mudah untuk diingat kembali adalah
informasi yang disampaikan secara terus menerus, informasi tentang hal-hal yang
terbaru, dan informasi tentang kejadian-kejadian yang tidak biasa dialami. Dengan
demikian, pengulangan adalah yang terpenting dalam sistem memori manusia. Dengan
pengulangan akan memudahkan informasi yang berada di ingatan jangka pendek
masuk ke ingatan jangka panjang dan lebih mudah untuk memanggil kembali
informasi yang berada di ingatan jangka panjang muncul di ingatan jangka
pendek.
Implikasi dari teori pemrosesan informasi yang memandang
belajar adalah pengkodean informasi ke dalam memori manusia seperti layaknya
sebuah carakerja komputer dan karena memori memiliki keterbatasan kapasitas,
pembelajaran harus dapat untuk menarik perhatian siswa dan menyediakan aplikasi
berulang dan praktik secara individual agar informasi yang diberikan mudah
dicerna dan dapat bertahan lama dalam memori siswa, dan aplikasi komputer memiliki
semuanya dengan kualitas yang sangat baik.
Multimedia telah banyak digunakan dalam media
pembelajaran. Menurut Istiyanto (2011), multimedia adalah media yang
menggabungkan dua unsur atau lebih yang terdiri dari teks, grafik, gambar,
foto, audio, dan animasi secara terintegrasi. Menurut Mayer (2009:3),
multimedia didefinisikan sebagai presentasi materi dengan menggunakan kata-kata
(verbal form) sekaligus gambar-gambar (pictorial form). Pembelajaran berbantuan
multimedia dapat diartikan sebagai aplikasi multimedia yang digunakan dalam
proses pembelajaran, untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, keterampilan dan
sikap) serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan belajar
sehingga terjadi proses belajar yang sesuai tujuan dan terkendali (Istiyanto,
2011).
Asumsi saluran
ganda (dual-channel assumption) menyatakan bahwa manusia memiliki saluran
terpisah bagi pemrosesan informasi untuk materi visual dan materi auditori.
Informasi berupa kata-kata diterima oleh mata dan telinga, sedangkan gambar
diterima oleh mata yang merupakan memori sensorik. Setelah diseleksi oleh
memori sensorik, informasi diteruskan ke memori kerja. Di dalam memori kerja,
informasi diorganisasikan untuk diintegrasikan yang selanjutnya diteruskan ke
memori jangka panjang.
Model belajar pemrosesan
informasi ini sering pula disebut model kognitif information
processing, karena dalam proses
belajar ini tersedia tiga taraf struktural sistem
informasi, yaitu:
1) Sensory atau intake register: informasi masuk ke
sistem melalui sensory register, tetapi hanya
disimpan untuk periode waktu terbatas. Agar
tetap dalam sistem, informasi masuk ke
working memory yang digabungkan dengan informasi di long-term
memory.
2) Working memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung
di working memory, dan di sini berlangsung
berpikir yang sadar. Kelemahan working memory
sangat terbatas kapasitas isinya dan
memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
3) Long-term memory, yang secara potensial
tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung
seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik.
Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi
yang tersimpan di dalamnya.
Dalam mengartikan penyampaian informasi dengan
multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan media pengantar, desain
pesan, serta kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu pada sistem yang
dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan
atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang
digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau
teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang
dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan
informasi visual atau auditorial. Sebagai contoh, suatu paparan tentang
bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui teks
tertulis dalam buku atau melalui teks di layar komputer (dua media yang
berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar
(dua desain pesan yang berbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau
lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya istilah desan pesan mengacu pada
proses manipulasi, atau rencana manipulasi dari sebuah pola tanda yang
memungkinkan untuk mengkondisi pemerolehan informasi. Penelitian telah
menemukan bukti bahwa desain pesan yang berbeda pada multimedia
instruksional mempengaruhi kualitas performansi (Pranata, 2004). Beberapa teori
yang melandasi perancangan desain pesan multimedia instruksional ialah
teori pengkodean ganda, teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan
ganda. Menurut teori pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang
terpisah untuk informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri atas
memori kerja visual dan memori kerja auditori. Teori muatan kognitif
menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas. Sedangkan
teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat multimedia
instruksional baru bermakna jika informasi yang diterima diseleksi pada setiap
penyimpanan, diorganisasikan ke dalam representasi yang berhubungan, serta
dikoneksikan dalam tiap penyimpanan. Temuan-temuan penelitian (Pranata, 2004)
telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding theory): terdapat
dua buah saluran pemrosesan informasi yang independent yaitu pemrosesan
informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi verbal
(atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki kapasitas yang
terbatas untuk memroses informasi yang masuk. Hal terpenting yang dinyatakan
oleh teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan bahwa kemampuan terbatas
memori kerja, visual maupun auditori, seharusnya menjadi pokok pikiran ketika
seseorang hendak mendesain sesuatu pesan multimedia.
Permasalahan:
1. Media pembelajaran terutama multimedia akan menarik
perhatian siswa, mengapa demikian? Tolong jelaskan berdasarkan hubungan dengan
pemrosesan informasi!
2. Bagaimana pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan
informasi verbal berjalan?
3. Tolong jelaskan memori kerja yang terdiri atas memori kerja visual dan memori kerja auditori!
Sumber :
Saya mencoba menjawab permasalahan nomor 2.
BalasHapusPemrosesan informasi visual berjalan karena diterimanya informasi dari indera penglihatan dan mengalami proses kognitif menuju otak sedangkan nformasi verbal adalah hasil pembelajaran yang berupa informasi yang dinyatakan dalam bentuk verbal (kata-kata atau kalimat) baik secara tertulis atau lisan.
Saya akan menjawab pertanyaan nomor 3
BalasHapusAda dua jenis memori kerja: memori auditori dan memori visual-spasial.
Anda bisa memikirkan keterampilan ini dalam hal pembuatan video.
Memori auditori mencatat apa yang Anda dengar saat memori visual-spasial menangkap apa yang Anda lihat.
Ketika Anda membuat video, informasi visual dan auditori disimpan untuk diamankan dan dapat diputar kembali ketika Anda perlu mengaksesnya.
Anda tidak perlu untuk memperhatikan detail ketika Anda membuat film.
Memori kerja , di sisi lain, tidak hanya disimpan untuk digunakan nanti. Itu harus diakses dan "dimainkan kembali" segera, bahkan ketika informasi baru tiba dan perlu dimasukkan.
Saya akan menjawab pertanyaan pertama.
BalasHapusMultimedia dikatakan menarik karena multimedia ini dilengkapi dengan berbagai fitur dan kekhasan tersendiri. Misalnya dilengkapi dengan gambar, suara, warna dan sebagainya. Sehingga menarik fokus dan perhatian siswa.