Revolusi Industri Era 4.0
Revolusi
Industri Era 4.0
Baiklah, pada blog ini akan
dibahas tentang revolusi industri era 4. Sebelum memasuki revolusi industri era
4, akan dibahas tentang sejarah revolusi industri. Revolusi Industri
merupakan periode antara tahun 1750-1850 di mana terjadinya perubahan secara
besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan
teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi dan
budaya di dunia. Revolusi Industri dimulai dari Britania Raya
dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa Barat, Amerika, Jepang, dan
menyebar ke seluruh dunia.
Revolusi Industri menandai
terjadinya titik balik besar dalam sejarah dunia, hampir setiap aspek kehidupan
sehari-hari dipengaruhi oleh Revolusi Industri, khususnya dalam hal peningkatan
pertumbuhan penduduk dan pendapatan rata-rata yang berkelanjutan dan belum
pernah terjadi sebelumnya. Selama dua abad setelah Revolusi Industri, rata-rata
pendapatan perkapita negara-negara di dunia meningkat lebih dari enam kali
lipat. Seperti yang dinyatakan oleh pemenang hadiah nobel, Robert Emerson Lucas,
bahwa: "Untuk pertama kalinya dalam sejarah, standar hidup rakyat biasa
mengalami pertumbuhan yang berkelanjutan. Perilaku ekonomi yang seperti ini
tidak pernah terjadi sebelumnya".
Revolusi industri generasi
keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan
tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang
memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Hal inilah yang
disampaikan oleh Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World
Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution. Perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia sebagaimana revolusi
generasi pertama melahirkan sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan
oleh kemunculan mesin. Salah satunya adalah kemunculan mesin uap pada abad
ke-18. Revolusi ini dicatat oleh sejarah berhasil mengerek naik perekonomian
secara dramatis di mana selama dua abad setelah Revolusi Industri terjadi
peningkatan rata-rata pendapatan perkapita Negara-negara di dunia menjadi enam
kali lipat.
Berikutnya, pada revolusi
industri generasi kedua ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik
dan motor pembakaran dalam (combustion chamber). Penemuan ini memicu kemunculan pesawat telepon,
mobil, pesawat terbang, dll yang mengubah wajah dunia secara signifikan.
Kemudian, revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan
teknologi digital dan internet.
Selanjutnya, pada revolusi industri generasi keempat,
seperti yang telah disampaikan pada pembukaan tulisan ini, telah menemukan pola
baru ketika disruptif teknologi (disruptive technology) hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan
perusahaan-perusahaan incumbent. Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industri telah
banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa.
Lebih dari itu, pada era industri generasi keempat ini,
ukuran besar perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan
menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat. Hal ini ditunjukkan
oleh Uber yang mengancam pemain-pemain besar pada industri transportasi di
seluruh dunia atau Airbnb yang mengancam pemain-pemain utama di industri jasa
pariwisata. Ini membuktikan bahwa yang cepat dapat memangsa yang lambat dan
bukan yang besar memangsa yang kecil.
Oleh sebab itu, perusahaan harus
peka dan melakukan instrospeksi diri sehingga mampu mendeteksi posisinya di
tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai panduan untuk
melakukan introspeksi diri, McKinsey&Company memaparkannya dalam laporan
berjudul An Incumbent’s Guide to Digital Disruption yang memformulasikan empat tahapan posisi perusahaan
di tengah era disruptif teknologi.
Tahap pertama, sinyal di tengah kebisingan (signals amidst
the noise). Pada tahun 1990 Polygram
dicatat sebagai salah satu perusahaan recording terbesar di dunia. Namun, pada 1998 perusahaan ini
dijual ketika teknologi MP3 baru saja ditemukan sehingga pemilik masih
merasakan puncak kejayaan Polygram pada saat itu dan memperoleh nilai (value) penjualan yang optimal. Contoh
lainnya adalah industri surat kabar tradisional yang mengejar oplah dan
pemasukan dari pemasangan iklan. Kemunculan internet yang mengancam
dimanfaatkan oleh Schibsted, salah satu perusahaan media asal Norwegia yang
menggunakan internet untuk mengantisipasi ancaman sekaligus memanfaatkan
peluang bisnis. Perusahaan ini melakukan disruptif terhadap bisnis inti mereka
melalui media internet yang akhirnya menjadi tulang punggung bisnis mereka pada
kemudian hari. Pada tahap ini, perusahaan (incumbent) merespons perkembangan teknologi secara cepat dengan
menggeser posisi nyaman dari bisnis inti yang mereka geluti mengikuti tren
perkembangan teknologi, preferensi konsumen, regulasi dan pergeseran lingkungan
bisnis.
Tahap kedua, perubahan lingkungan bisnis tampak lebih jelas (change takes hold). Pada tahap ini perubahan sudah
tampak jelas baik secara teknologi maupun dari sisi ekonomis, namun dampaknya
pada kinerja keuangan masih relatif tidak signifikan sehingga belum dapat
disimpulkan apakah model bisnis baru akan lebih menguntungkan atau sebaliknya
dalam jangka panjang. Namun, dampak yang belum signifikan ini ditanggapi secara
serius oleh Netflix tahun 2011 ketika menganibal bisnis inti mereka yakni
menggeser fokus bisnis dari penyewaan DVD menjadi streaming. Ini merupakan keputusan besar
yang berhasil menjaga keberlangsungan perusahaan pada kemudian hari sehingga
tidak mengikuti kebangkrutan pesaingnya, Blockbuster.
Tahap ketiga, transformasi yang tak terelakkan (the inevitable transformation). Pada tahap ini, model bisnis baru sudah teruji dan
terbukti lebih baik dari model bisnis yang lama. Oleh sebab itu, perusahaan incumbent akan mengakselerasi transformasi
menuju model bisnis baru. Namun demikian, transformasi pada tahap ini akan
lebih berat mengingat perusahaan incumbent
relatif sudah besar dan gemuk
sehingga tidak selincah dan seadaptif perusahaan-perusahaan pendatang baru (startup company) yang hadir dengan model bisnis
baru. Oleh sebab itu, pada tahap ini perusahaan sudah tertekan pada sisi
kinerja keuangan sehingga akan menekan budget bahkan mengurangi beberapa aktivitas bisnis dan fokus
hanya pada inti bisnis perusahaan incumbent.
Tahap keempat, adaptasi pada keseimbangan baru (adapting to the
new normal). Pada tahap ini, perusahaan incumbent sudah tidak memiliki pilihan
lain selain menerima dan menyesuaikan pada keseimbangan baru karena fundamental
industri telah berubah dan juga perusahaan incumbent
tidak lagi menjadi pemain yang
dominan. Perusahaan incumbent hanya dapat berupaya untuk tetap bertahan di tengah terpaan
kompetisi. Pada tahap inipun para pengambil keputusan di perusahaan incumbent perlu jeli dalam mengambil
keputusan seperti halnya Kodak yang keluar lebih cepat dari industry fotografi
sehingga tidak mengalami keterperosokan yang semakin dalam. Berangkat dari
tahapan-tahapan ini seyogianya masing-masing perusahaan dapat melakukan deteksi
dini posisi perusahaan sehingga dapat menetapkan langkah antisipasi yang tepat.
Tantangan terberat justru kepada para market leader di mana biasanya merasa superior
dan merasa serangan disruptif hanya ditujukan kepada kompetitor minor yang
kinerjanya tidak baik. Oleh sebab itu, perusahaan incumbent perlu terus bergerak cepat dan
lincah mengikuti arah perubahan lingkungan bisnis dalam menyongsong era
revolusi industri generasi keempat (Industry
4.0). Reed Hasting, CEO Netflix
pernah mengatakan bahwa jarang sekali ditemukan perusahaan mati karena bergerak
terlalu cepat, namun sebaliknya yang seringkali ditemukan adalah perusahaan
mati karena bergerak terlalu lambat.
Ada empat prinsip rancangan dalam Industri 4.0.
Prinsip-prinsip ini membantu perusahaan mengidentifikasi dan
mengimplementasikan skenario-skenario Industri 4.0.
- Interoperabilitas (kesesuaian): Kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan manusia untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan satu sama lain lewat Internet unuk segala (IoT) atau Internet untuk khalayak (IoP). IoT akan mengotomatisasikan proses ini secara besar-besaran
- Transparansi informasi: Kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model pabrik digital dengan data sensor. Prinsip ini membutuhkan pengumpulan data sensor mentah agar menghasilkan informasi konteks bernilai tinggi.
- Bantuan teknis: Pertama, kemampuan sistem bantuan untuk membantu manusia dengan mengumpulkan dan membuat visualisasi informasi secara menyeluruh agar bisa membuat keputusan bijak dan menyelesaikan masalah genting yang mendadak. Kedua, kemampuan sistem siber-fisik untuk membantu manusia secara fisik dengan melakukan serangkaian tugas yang tidak menyenangkan, terlalu berat, atau tidak aman bagi manusia.
- Keputusan mandiri: Kemampuan sistem siber-fisik untuk membuat keputusan sendiri dan melakukan tugas semandiri mungkin. Bila terjadi pengecualian, gangguan, atau ada tujuan yang berseberangan, tugas didelegasikan ke atasan.
Sumber:
Permasalahan:
1. Apa dampak revolusi industri era 4 ini pada dunia pendidikan?
2. Bagaimana menurut anda sebagai mahasiswa menanggapi
atau menyikapi revolusi industri 4 ini?
3. Adakah dampak negatif dari era revolusi industri 4
ini, jika ada tolong jelaskan.
saya akan mencoba menjawab permasalahan ke 1
BalasHapustentu saja sangat berdampak kepda dunia pendidikan. makaLembaga pendidikan dan pelatihan Indonesia harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki nilai tambah sesuai kebutuhan pasar kerja.
"Lembaga pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang berkarakter, kompeten, dan inovatif," jelas Maruli.
"Dunia industri juga harus dapat mengembangkan strategi transformasi dengan mempertimbangkan perkembangan sektor ketenagakerjaan karena transformasi industri akan berhasil dengan adanya tenaga kerja yang kompeten," papar Maruli.
Di sisi lain, Direktur Pendidikan Universitas Padjajaran Wawan Hermawan menegaskan, menjadi generasi yang hidup di era industri 4.0 harus mamiliki daya saing yang tinggi.
"Selain unggul di bidang akademik, generasi saat ini juga harus berdaya saing tinggi. Persaingan di luar dana sangat ketat, apalagi sekarang sudah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)," jelas Wawan.
baiklah saya akan memnajawab permasalahn anda nomor 3 yaitu
BalasHapusEra revolusi 4.0 akan berbasis pada penggunaan dunia digital, komputerisasi, dan analisa big data serta teknologi artificial intelligence (AI) dalam dunia industri. Hal ini harus disambut oleh pelaku industri dengan penuh kehati-hatian dan bijak.
Mengapa harus hati-hati? Sebab, revolusi ini akan fokus pada penggunaan teknologi komputer dalam segala aspek untuk mengantikan tenaga manusia. Hal ini sudah terlihat, pada beberapa aspek industri yang sudah menerapkan sistem komputer dengan mengantikan tenaga manusia.
Seperti penerapan penggunaan uang elektronik (e-money) pada pembayaran tol, serta penggunaan tiket elektronik atau hanya dengan scan barcode yang telah dilakukan oleh beberapa industri transportasi di Indonesia. Kita bisa melihat, berapa banyak tenaga manusia yang akhirnya tergantikan oleh mesin-mesin komputer tersebut.
Kehati-hatian ini pun diamini oleh presiden Joko Widodo yang meminta semua pihak berhati-berhati dalam menyongsong industri 4.0 tersebut. Jokowi sapaan akrab Joko Widodo mencontohkan sosial media instagram yang saat ini sudah digunakan untuk mencapai target marketing. Bukan lagi sekedar sosial media untuk eksistensi diri penggunanya.
Jokowi juga membahas soal bio teknologi yang bisa mengatasi kekurangan lahan, tidak akan lagi membuat orang takut kekurangan pangan. Sebab, media tanam tidak hanya tanah atau berupa lahan lagi. Karena ada rekayasa bibit dan pupuk. Meskipun dengan lahan yang sempit, suatu negara tetap bisa melakukan ekspor pangan seperti yang terjadi pada negara Belanda yang telah menerapkan bio teknologi dan rekayasa lahan.
Nasib Para Pekerja? Akankah Banyak yang Menjadi Pengangguran?
Komputerisasi di era industri revolusi 4.0 merupakan salah satu hal yang cukup ditakuti oleh banyak pekerja. Karena, mereka takut tenaga mereka digantikan oleh komputer dengan teknologi AI yang sudah mulai berkembang di negara-negara maju. Dan di Indonesia proses ini sedang berlangsung.
Era Revolusi 4.0
Kehadiran teknologi komputer yang berkonsep pada AI serta internet of things membuat banyak orang sangat mudah dalam mengakses apapun melalui internet. Revolusi ini pun sangat ditakuti oleh banyak pihak, salah satunya lembaga keuangan.
Keuangan, Industri yang Paling Terancam
Industri yang saat ini paling terancam dengan kehadiran revolusi industri era 4.0 yakni lembaga keuangan. Pada akhir tahun 2017, disebut-sebut beberapa lembaga keuangan sedang gencar-gencarnya melakukan pengurangan tenaga kerja.
Pengurangan tersebut dikarenakan, peran pekerja front office Bank sudah mulai tidak lagi seperti dahulu yang selalu mengatasi masalah yang diaalmi oelh nasabah, tetapi kini hal itu tidak lagi berlaku. Disebabkan para nasabah lebih menyukai melakukan aktivitas perbankan melalui ATM (Anjungan Tunai Mandiri) maupun melalui mobile banking maupun internet banking.
Selain itu, munculnya Financial Technology (Fintech) merupakan inovasi di bidang keuangan. Di fintech, masyarakat hanya butuh membuka akses via website, lalu mereka bisa melakukan peminjaman sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, semua transaksi pun bisa dilakukan pada aplikasi-aplikasi milik lembaga fintech tersebut. Sehingga sangat mudah diterapkan oleh para nasabah yang ingin melakukan aktivitas keuangan.
Kehadiran revolusi industri 4.0 memang tak bisa dibendung, dan tak bisa juga dipungkiri dapat membuat banyak industri melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada para karyawannya yang tidak lagi bisa bersaing dan mengikuti perkembangan teknologi
Saya mencoba menjawab permasalahan 2.
BalasHapusMahasiswa menyikapi Revolusi Industri 4.0 adalah selain unggul di bidang akademik, generasi saat ini juga harus berdaya saing tinggi. Persaingan di luar sana sangat ketat, apalagi sekarang sudah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Salah satu faktor yang penting adalah keterampilan dan kompetensi yang harus tetap secara konsisten ditingkatkan oleh seorang mahasiswa, dan harus "melek" terhadap teknologi.